Aku merasa seperti orang asing di sini. Seperti tak diperhatikan dan tak dianggap itu sedikit menyakitkan. Aku hanya berusaha bertahan. Bertahan dan bertahan.
Well, mungkin tulisan ini lebih terkesan seperti curhatan daripada sebuah opini. Tepat di hari Rabu tanggal 5 April 2015 saya resign dari pekerjaan. Setelah saya berhenti dari tempat itu, otomatis saya memiliki lebih banyak waktu luang untuk kegiatan lain karena saya tidak harus bekerja setiap hari lagi seperti sebelumnya. Berkat kehadiran saya di berbagai kesempatan saya pun bertemu dengan banyak teman. Mereka banyak bertanya tentang kabar saya, termasuk perihal kondisi perkerjaan saya. Sebenarnya itu sah-sah saja, mengingat biasanya saya sudah "tenggelam" karena diketahui sudah bekerja, tapi kok nongol lagi? Pertanyaan standar pun mulai menyapa saya, seperti, "gimana kerjaannya?", "masih kerja di situ?", "udah berenti kerja yah, kok bisa ikut acara ini?" Jenuh. Satu kata yang mewakili perasaan saya terhadap berbagai pertanyaan yang orang lain lemparkan kepada saya. Belum lagi reaksi mereka kalau tahu saya sudah resign. Yah, kalau hanya sek...
Lokasi: Gereja MRPD Pontianak Judul ini seperti clickbait karena mungkin akan terkesan berbeda bagi setiap orang yang membacanya, tergantung persepsi mereka. Makanya, aku sangat menyarankan untuk membaca tulisan ini sampai habis. Aku tidak akan membahas betapa orang yang pernah berbuat salah terhadap kita harus dibenci, atau mungkin tidak layak diberikan kebaikan termasuk doa kita. Hanya saja, ada satu pemahaman yang membuatku akhirnya menuangkan pemikiranku ditulisan ini. Aku tidak ingin terkesan sok tua, tapi kuakui bahwa aku bukan belia lagi meskipun umurku tergolong masih muda. Dua puluh empat tahun delapan bulan kurasa sudah cukup banyak bagiku menjumpai orang-orang dengan berbagai karakter. Dan sepanjang perjalanan hidupku inilah aku memetik banyak pelajaran berharga, terutama dalam hal bersosial. Memang kehidupan sosial itu susah-susah gampang. Sistem pendidikan didunia mengajarkan kita untuk "meraih" sesuatu ...
3 Januari 2017 Di zaman yang serba modern ini, banyak orang terhanyut oleh berbagai aktivitas dan kesibukan duniawi. Bagi para orang tua, ia dikejar oleh urusan rumah tangganya, mengurus anak, dan pekerjaan. Bagi para dewasa muda, ia mencari makna hidup dengan mulai bekerja, menata hubungan dengan calon pasangan hidupnya, dan kebanyakan orang pada usia ini mulai semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Mereka yang masih sekolahpun juga memikul beban berat, belajar, mengerjakan PR dan tugas sekolah, dan menjalani kehidupan bersosial dengan teman sebayanya. Dari semua aktivitas tersebut jika terus dilakukan tanpa henti akan menimbulkan rasa jenuh bagi seseorang, terutama mereka yang memiliki jam terbang tinggi, sampai muncul istilah “makan pun tak sempat”. Hal ini juga berlaku untuk saya. Dulu saya sempat memiliki kesibukan yang luar biasa padatnya, sampai-sampai membuat saya kurang tidur. Tepatnya waktu saya kuliah, apalagi jurusan yang saya gel...
Komentar
Posting Komentar